Lampung Tengah, Senopatinews.com
Kegiatan Gebyar Literasi Tingkat Sekolah Dasar atau sederajat yang rencananya bakal diadakan pada 28 kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah, kental dengan nuansa aroma dugaan Pungutan Liar (Pungli) dan terkesan dipaksakan. Dalam kegiatan ini, rencananya Tim Literasi bekerja sama dengan salah satu pihak dari produk premium storage dan beverage packaging asli produk dalam negeri. Namun, giat ini sesungguhnya menuai penolakan dari kalangan kepala sekolah hingga walimurid.

Gebyar ini melibatkan peserta didik pada jenjang pendidikan dasar, dengan agenda lomba mewarnai dan lomba cerita bergambar, alasan penolakan lantaran terdapat biaya registrasi sebanyak Rp70 ribu bagi tiap peserta, selain itu, waktu pelaksanaan yang tidak jelas menjadi momok tersendiri bagi mereka yang diharuskan terlibat pada kegiatan ini. Meski tidak semua murid diharuskan ikut berpartisipasi, namun terdapat presure terhadap pihak terkait untuk mengirimkan peserta dan membayar, sedangkan biaya dibebankan kepada walimurid.
“Benar ada lomba gebyar literasi tingkat sekokah dasar se Kabupaten Lampung Tengah yang mengadakan bunda literasi ibu Mardiana Musa Ahmad, tapi Kami bingung, itu bayar Rp70 ribu, itu dibebankan kepada walimurid, sedangkan kita tahu kalau walimurid itu tidak semuanya mampu. Kami edarkan surat dari KKKS, banyak yang tidak mau ikut,” jelas salah satu Kepala Sekolah Dasar yang ada di Kabupaten Lampung Tengah.
Lanjutnya, bahwa sempat ada pembatalan kegiatan, namun tidak lama berselang terdapat surat edaran baru yang mengharuskan kegiatan gebyar literasi ini dilaksanakan, untuk Kecamatan Trimurjo, pada tanggal 12 Desember 2023.
“Sempat ada surat dari dinas bahwa kegiatan itu gagal. Dan kami pun pada senang semua karena acara itu dinyatakan gagal, kami senang, daripada lomba-lomba itu berabe, berat bawa anak orang. Tidak tahu nya ini maju lagi jadi tanggal 12 Desember 2023 lombanya, di Kecamatan Trimurjo, lokasinya di Kampung Simbar Waringin,” ujarnya.
Dari pesan Whats app yang beredar, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan dan kreativitas anak, mendorong peserta didik untuk membiasakan diri dengan Budaya Literasi dan menumbuh kembangkan sikap sportivitas dan kompetitif.
“Bayarnya Rp70 ribu, dapet produk, setifikat pemghargaan dikasi makan, banyak yang langsung sepontan tidak mau, berat bayar Rp70 ribu bagi walimurid. Saya senang bahwa acara itu gagal, saya ketawa-ketawa, acara itu alhamdulillah gagal. Karena walimurid itu pada keberatan, beban bener kami, malah tidak tahu nya ada surat lagi dari K3S dan bunda paud sepertinya ini harus dilaksakan Dinas,” imbuhnya.
Selain itu, untuk diwilayah Kecaman Terbanggi Besar jadwal pelaksananya juga berubah-ubah yang rencana awal bakal digelar pada tanggal 11 Januari, namun berubah dan waktu pelaksanaanya belum dijadwalkan kembali.
“Sudah kami umumkan disekolah pelaksanaanya pada tanggal 11 Januari 2024, tapi jadwal itu dipending. Padahal itu sudah kami rapatkan disekolah dan teknis pelaksanaanya sudah saya sampaikan ke guru dan walikelas. Tapi ada pemberitahuan terbaru, kalau pada waktu yang telah ditetapkan dipending,” kata salah satu kepala sekolah di Kecamatan Terbanggi Besar.
Sementara Camat Gunung sugih, Wagio menerangkan bahwa kegiatan itu sudah terjadwal, namun pihaknya mengaku tidak tahu soal adanya biaya registrasi Rp70 ribu yang dibebankan kepada walimurid.
“Itu sudah dijadwal, saya belum tahu yang terbaru, yang sudah diselengarakan itu di Kecamatan Selagai Lingga, kami belum. Masih lama kami di Bulan Januari, saya belum tahu soal ada biaya Rp70 ribu per siswa itu, karena jadwal kami di dibulan Januari 2024, belum merapatkan hal itu,” jelasnya.
Dari informasi yang diterima, pihak yang terlibat di setiap kecamatan dihimbau untuk menghadirkan 3.000 peserta berikut walimurid yang mendampingi. Hal itu dilakukan, kemungkinan supaya kegiatan ini terkesan ramai, dan mungkin kegiatan ini juga menjadi ajang panggung politik yang tersetruktur, sistematis dan masif. (*)
Redaksi Senopatinews.com
![]()

