Lampung Tengah, Senopatinews.com
Beredar kabar, sejumlah aparatur Kampung Buminabung Ilir, Kecamatan Buminabung Kabupaten Lampung Tengah, di berhentikan oleh kepala kampung setempat.
Aparatur yang di berhentikan, diantaranya lima kaur dan enam kadus serta sejumlah RT juga ikut berhenti. Namun, selaku Kepala Kampung Buminabung Ilir Rahidi, menampik kabar tersebut. Ia menjelaskan bahwa awal mula persoalan di picu oleh hilangnya laptop milik kampung yang kerap di pergunakan oleh tiga orang perangkat kampung setempat.
Dari informasi yang di himpun, beberapa aparatur kampung yang diberhentikan itu sempat dipanggil oleh kakam setempat, untuk datang ke kantor desa dan memerintahkan untuk membuat surat pengunduran diri sebagai dari tugas yang di embannya.
“Keputusan yang diambil kepala kampung di anggap menjadi keputusan yang keliru dan tidak memiliki dasar sekaligus melanggar Permendagri Nomor 67 Tahun 2017. Mereka berencana akan melaporkan kasus tersebut ke Kemendes, Bupati Lampung Tengah serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Lampung tengah,” ujar salah satu sumber yang enggan di sebutkan namanya.
Sementara, Rahidi selaku Kepala Kampung menerangkan bahwa, dirinya kaget dengan adanya surat pengunduran diri yang di layangkan sejumlah aparatur kampung. Namun, meski sudah menyerahkan surat pengunduran diri, beberapa masih tetap masuk kantor.
“Saya kaget kenapa mereka sepakat, seperti itu. Saya tenya, saya panggil datang dua perangkat kampung, bendahara sama sekretaris, saya tanya kok bisa seperti ini, jadi kata bendahara ini sepakat mereka, kalau barang ini tidak di kembalikan (laptop) terpaksa mengundurkan diri,” kata kakam.
Informasi yang beredar terkait perintah Kepala Kampung supaya aparatur kampung mundur membuat dirinya kaget. Pasalnya, Rahidi tidak pernah mengatakan hal seperti itu.
“Saya kaget, tidak begitu. Selain itu juga ada kejanggalan, tanpa paksaan dari siapapun, surat itu sudah ada di saya. Surat ini akan tetap saya naikan ke kecamatan. Ini kan gara-gara laptop di kantor hilang, mereka menutupi kalau laptop kantor hilang, kalau istilah kecongkel atau kemalingan. Jadi mereka ngomong laptop kemalingan gak ada jalur, rusak enggak atau gimana kan,” terangnya.
Pihaknya juga telah memanggil tiga orang aparaturnya yang kerap mengunakan laptop itu, untuk mencari solisi agar laptop yang hilang bisa kembali lagi. Namun, hingga saat ini, barang elektronik milik pemerintah kampung setempat belum juga di temukan.
“Saya panggil orang tiga yang sering pakai laptop. Sudah lah gimana caranya pulangin aja, supaya tidak di denger masyrakat, kita upayakan cari gimana caranya. Sampai saat ini belum ketemu. Maka saya ngomong sama mereka, peribadi saya malu, ini kantor pemerintahan, kalau kemalingan ada bekas kecongkel,” imbuhnya.
Ia menyebut, perangkat kampung yang di kabarkan mudur, secara administrasi belum resmi mengundurkan diri. Karena beberapa diantaranya, masih terlihat masuk kantor.
“Belum resmi mundur. Buktinya dua orang masih ngantor, mereka masuk. Itu aja saya tidak tahu. Carik sama bendahara ngantor. Kalau saya yang harus bertanggung jawab prihal laptop hilang, tidak apa-apa. Tapi saya harus tahu dulu jalur hilangnya seperti apa. Urusan laptop belum jelas, mereka sudah mau mundur,” tutupnya. (*)
Redaksi Senopatinews.com
![]()

