Lampung Tengah, Senopatinews.com
(AD) seorang pasien persalinan warga Lampung Tengah, mengaku mengalami serangkaian peristiwa yang membuat dirinya dan keluarga mempertanyakan pelayanan di RS Mitra Mulia Husada (MMH) Bandar Jaya, Lamteng.
Pengakuan mengejutkan itu diakuinya saat menghubungi tim media, senin 08/06/2026. Berdasarkan keterangan pasien, awalnya ia tidak pernah secara khusus memilih RS Mitra Mulia Husada sebagai tempat pemeriksaan kehamilannya.
Ia mengaku hanya ingin memeriksakan kandungannya di rumah sakit yang lebih besar karena selama ini rutin melakukan pemeriksaan di salah satu Puskesmas Kecamatan Seputih Mataram.
Namun, (AD) dihubungi seseorang melalui WhatsApp yang memberitahukan bahwa dirinya telah didaftarkan ke RS Mitra Mulia Husada dan bahkan telah mendapatkan nomor antrean pertama.
“Saya diberitahu sudah didaftarkan dan dapat nomor satu. Akhirnya saya datang ke rumah sakit itu,” ujarnya.
Beberapa waktu kemudian, sebelum jadwal kontrol berikutnya, pasien mengalami kontraksi. Melalui komunikasi dengan seorang bidan yang disebut berasal dari Puskesmas di Kecamatan Seputih Mataram, ia mengaku diarahkan untuk langsung menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Mitra Mulia Husada tanpa surat rujukan.
Setibanya di rumah sakit pada Minggu sore, pasien kemudian menjalani rawat inap. Namun menurut pengakuannya, dokter yang sejak awal menjadi tujuan pemeriksaannya tidak berada di tempat.
“Saya tahunya dokter tidak ada karena hari Minggu. Tidak ada yang bilang kalau dokternya sedang cuti,” ujar pasien.
DUGAAN PENGARAHAN KE RUMAH SAKIT MMH OLEH SEORANG BIDAN
Ia mengaku, tidak pernah mendaftar tiba-tiba sudah didaftarkan dan diarahkan oleh seorang bidan untuk berobat ke rumah sakit tersebut.
Belakangan, pasien mengaku baru mengetahui bahwa dokter yang ditunggu tersebut sedang cuti. Kondisi itu membuat keluarga mulai mempertanyakan penanganan yang akan diterimanya, terlebih karena pasien datang ke rumah sakit tersebut setelah sebelumnya diarahkan dan didaftarkan oleh pihak yang disebut memiliki hubungan dengan seorang bidan.
KELUARGA SESALKAN PROSES PENDAFTARAN KE RUMAH SAKIT OLEH BIDAN PUSKESMAS
Tak hanya itu, orangtua AD bahkan dikabarkan sempat menyayangkan keputusan membawa pasien ke rumah sakit tersebut. Keluarga kemudian berinisiatif memindahkan pasien ke rumah sakit lain karena khawatir terhadap kondisi ibu dan janin.
Namun menurut pengakuan pasien, keinginan tersebut tidak dapat dilakukan. Ia mengaku telah meminta untuk dipulangkan dan bahkan menyatakan siap menanggung seluruh biaya perawatan tanpa menggunakan BPJS Kesehatan.
“Saya bilang tidak usah pakai BPJS, mau bayar sendiri berapa pun biayanya. Tapi tetap tidak boleh pulang,” katanya.
SUAMI PASIEN DIMINTA TANDATANGAN OPERASI TANPA PENJELASAN
Di tengah situasi tersebut, suami pasien mengaku beberapa kali dipanggil untuk menandatangani persetujuan operasi sesar. Padahal keluarga mengaku belum mendapatkan penjelasan langsung dari dokter mengenai kondisi pasien.
“Suami saya sampai tiga kali dipanggil untuk tanda tangan operasi. Kami menolak karena ingin bertemu dokter dulu dan ingin tahu dasar kenapa harus operasi,” tuturnya.
Penjelasan medis baru diperoleh setelah dokter datang melakukan pemeriksaan. Saat itu keluarga diberitahu bahwa bayi terlilit tali pusar dan kondisi air ketuban disebut tinggal sekitar 2 sentimeter.
Informasi tersebut membuat keluarga terkejut. Sebab selama menjalani perawatan, pasien mengaku tidak pernah mendapat informasi bahwa kondisi kandungannya berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
“Dokter bilang air ketuban tinggal 2 sentimeter. Saya kaget karena sebelumnya tidak pernah diberi tahu ada masalah seperti itu,” ujarnya.
TANDATANGAN DILAKUKAN KARENA TERPAKSA, AIR KETUBAN DISEBUT TINGGAL 2 SENTIMETER
Karena mempertimbangkan keselamatan bayi, keluarga akhirnya menyetujui tindakan operasi sesar.
Meski demikian, pasien mengaku kembali kecewa karena operasi yang awalnya disebut akan dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB tidak segera dilaksanakan. Dalam kondisi berpuasa sejak pagi, ia baru masuk ruang operasi sekitar pukul 14.30 WIB.
“Ibu mertua saya sempat marah karena saya sudah lama tidak makan dan minum, sementara operasinya terus tertunda,” katanya.
Keluarga mempertanyakan keterlambatan tersebut mengingat kondisi air ketuban yang disebut sudah sangat sedikit. Terlebih, pasien mengaku mendengar pernyataan dari asisten dokter saat operasi yang menyebut kondisi cairan ketuban sudah hampir habis dan keterlambatan penanganan berpotensi membahayakan keselamatan janin.
“Waktu operasi saya dengar asisten dokter bilang kalau cairannya sudah hampir habis dan kalau terlambat sedikit bisa berbahaya,” tuturnya.
Meski bayi akhirnya lahir dalam keadaan selamat, pengalaman tersebut meninggalkan sejumlah pertanyaan terkait proses rujukan pasien, hak pasien untuk memilih fasilitas kesehatan, ketersediaan dokter penanggung jawab saat pasien dirawat, hingga alasan penundaan tindakan operasi dalam kondisi yang disebut berisiko.
KERABAT PASIEN SEBUT BIDAN YANG MENDAFTARKAN DIDUGA TERIMA FEE
Selain itu, pasien juga mengaku sempat mendengar informasi dari kerabatnya mengenai dugaan adanya pemberian fee kepada pihak tertentu yang membawa pasien ke rumah sakit. Namun informasi tersebut hanya berdasarkan cerita yang diterimanya dari pihak lain dan tidak disertai bukti.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak RS Mitra Mulia Husada belum memberikan tanggapan resmi terkait keterangan yang disampaikan pasien tersebut. Pihak rumah sakit diharapkan dapat memberikan penjelasan terkait proses penanganan pasien, ketersediaan dokter saat pasien dirawat, serta alasan keterlambatan tindakan operasi sebagaimana yang dikeluhkan keluarga pasien. (*)
![]()

