Lampung Tengah, Senopatinews.com
Usai munculnya pemberitaan yang berjudul Jual Produk Berkedok Literasi Dikeluhkan Kepsek dan Walimurid di Lampung Tengah, dengan salah satu narasumbernya kepala sekolah yang ada di Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah. Sontak menimbulkan reaksi, sehingga membuat bunda literasi setempat menghubungi para kepala sekolah dasar (SD) yang ada diwilayah itu. Namun pemberitaan tersebut justru mendapat respon positif dari sejumlah Camat dan Kepala Sekolah.
Saat dikonfirmasi Camat Trimurjo membenarkan hal tersebut, namun menurutnya itu hanya sebatas komunikasi yang berkaitan dengan pelaksanaan rapat. Saat disinggung soal adanya uang registrasi dalam kegiatan gebyar literasi tingkat sekolah dasar, pihaknya enggan berkomentar.
“Menelfon untuk rapat mungkin, untuk pertemuan saja. Untuk rapat, untuk mebicarakan seperti apa (Gebyar Literasi). Kan mau nanya kepala-kepala sekokah itu kan mau seperti apa ini nya nanti itu,” jelas Camat Trimurjo Supryono, Rabu 6/12/ 2023.
Sementara saat ditanya soal adanya biaya registrasi Rp70 ribu dalam Gebyar Literasi tingkat sekolah dasar (SD), Camat Trimurjo tidak mau berkomentar, justru menyarankan untuk meminta tanggapan dari rakan camat yang lainnya.
“Jangan saya lah, enggak enak sama anu. Jangan saya yang lain saja, dengan camat lain lah saya tidak enek,” terang Camat Trimurjo sambil melempar tawa.
Dari informasi yang dihimpun, terdapat Sekolah Dasar yang diduga mendapat presure atau tekanan dari bunda literasi Kecamatan Trimurjo untuk mendatangkan 40 orang peserta guna mengikuti Gebyar Literasi di kecamatan setempat dalam waktu dekat ini.
Sementara, sejumlah camat yang ada di Kabupaten Lampung Tengah mengapresiasi pemberitaan yang disampaikan oleh media ini, dimana memang fakta dilapangan para kepala sekolah dan walimurud keberatan terkait kegiatan itu. Selain itu pihak sekolah banyak yang tidak berani melakukan penarikan biaya registrasi karena khawatir menyalahi aturan.
“Ini benar pemebitaannya, memang apa adanya, memang betul seperti itu (Kepsek dan walimurid keberatan). Tidak salah diberita itu, memang betul apa adanya. Kepala sekolah jelas tidak berani dong, disuruh narik-narik (biaya Rp70 ribu) karena mereka tidak pernah seperti itu. Realitanya dibawah memang seperti itu, kita tunggu saja respon yang buat kebijakan itu,” jelas salah satu camat yang tidak mau disebutkan namanya.
Beberapa camat lainya juga mengapresiasi pemberitaan yang muncul terkait Gebyar literasi ini, karena dianggap membebani walimurid, terutama kepala sekolah yang sudah menarik biaya tapi telah dikembalikan karena batal, dan sekarang harus menarik biaya lagi. Itu menjadi beban yang berat bagi kepala sekolah, sampai-sampai ada yang mengeluh dan ingin mundur dari jabatan kepala sekolah, karena dirasa menyulitkan. (*)
Redaksi Senopatinews.com
![]()

