Lampung Tengah, senopatinews.com
Agenda reses anggota DPRD Kabupaten Lampung Tengah kembali menjadi sorotan publik. Langkah penyerapan aspirasi masyarakat tersebut diduga disusupi agenda politik praktis berupa pengarahan dukungan kepada salah satu bakal calon kepala kampung (kakam) dalam Pemilihan Kepala Kampung (Pilkakam) mendatang.
Dugaan pelanggaran ini mencuat dalam kegiatan Reses Wawasan Ideologi Pancasila yang digelar di kediaman anggota DPRD Lampung Tengah, Hj. Yurita, di Kampung Kotagajah Timur, Kecamatan Kota Gajah, pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.
Berdasarkan kesaksian salah seorang warga setempat yang hadir, dalam acara tersebut diwarnai dengan pembagian nasi kotak dan amplop. Tak hanya itu, warga mengaku diarahkan untuk memberikan suara kepada salah satu dari enam kandidat yang bakal bertanding, yakni Pujito.
“Saat itu kami dikumpulkan di kediaman Ibu Yurita. Ketika membagikan nasi kotak dan amplop, beliau menyampaikan arahan untuk memilih salah satu calon kepala kampung bernama Pujito,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Selasa (20/10/2026).
Untuk diketahui, Pemilihan Kepala Kampung di wilayah tersebut diikuti oleh enam bakal calon, yaitu Pujito, Ismail, Dahrum, Herudin, Lilik Aulia Agustina, dan Rohmat Susanto.
Warga menyesalkan kejadian tersebut karena reses merupakan kegiatan resmi yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Penggunaan fasilitas dan dana negara untuk kepentingan politik praktis dinilai sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap fungsi konstitusional legislator.
Atas fenomena ini, masyarakat mendesak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) serta Badan Kehormatan (BK) DPRD Lampung Tengah untuk turun tangan dan bertindak tegas agar masa reses tidak disalahgunakan.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, Hj. Yurita membenarkan adanya kegiatan reses yang berlangsung di kediamannya pada Kamis lalu. Namun, ia membantah keras tuduhan telah mengarahkan warga untuk memilih calon tertentu.
“Tidak benar itu, hoaks. Saya tidak pernah menyuruh memilih salah satu calon,” tegas Yurita saat dihubungi via telepon selulernya.
Selain membantah, Yurita juga sempat meminta agar narasi tersebut tidak dipublikasikan menjadi berita dan mengajak wartawan untuk membicarakannya secara langsung di kediamannya .
“Tolong jangan dinaikin berita ya, main aja ke rumah,” ujarnya berulang kali menutup keterangan. (Red)
![]()

